Bursa Saham Asia Jatuh
PT BEST PROFIT FUTURES BANDUNG, PT Bestprofit - Bursa saham Asia Pasifik turun di awal perdagangan Kamis.
Pelemahan ini mengikuti Wall Street yang anjlok karena data inflasi yang memicu
kekhawatiran kenaikan suku bunga.
Mengutip CNBC, Kamis (13/5/2021), indeks saham Nikkei 225 Jepang turun
1,51 persen di awal perdagangan. Sedangkan Indeks Topix turun 0,78 persen.
Saham Softbank Group turun sekitar 6 persen setelah perusahaan menolak untuk
memperpanjang program buyback.
Sedangkan indeks S&P/ASX 200 turun tipis 0,54 persen. Saham
perbankan berada di zona negatif. Di Korea Selatan, Indeks Kospi turun 0,7
persen. Bursa saham India dan Singapura pada Kamis tutup karena libur.
Wall Street Anjlok, Indeks Dow Jones Merosot 2 Persen Imbas
Kekhawatiran Inflasi
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street merosot
pada penutupan perdagangan saham Rabu, 12 Mei 2021. Wall street tertekan
didorong aksi jual terutama saham teknologi oleh investor karena kekhawatiran data inflasi.
Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones anjlok
681,50 poin atau 2 persen menjadi 33.587,66, dan alami penurunan terburuk sejak
Januari 2021. Indeks saham unggulan tersebut merosot tajam mencapai 713 poin ke
posisi terendah.
Indeks saham S&P 500 turun 2,1 persen ke posisi 4.063,04 dan alami
penurunan terbesar sejak Februari 2021. Indeks saham Nasdaq tergelincir 2,7
persen menjadi 13.031,68 sehingga mendorong indeks saham acuan tersebut susut
lebih dari lima persen secara mingguan.
Data inflasi mempengaruhi wall street. Angka inflasi berada pada laju
tercepat sejak 2008 dengan indeks harga konsumen naik 4,2 persen dari tahun
lalu dibandingkan perkiraan Dow Jones menguat 3,6 persen. Secara bulanan naik
0,8 persen dibandingkan perkiraaan 0,2 persen.
Hal itu tidak termasuk harga pangan dan energi yang tidak stabil.
Inflasi inti meningkat tiga persen dari periode sama pada 2020 dan 0,9 persen
secara bulanan. Sebelumnya masing-masing diharapkan 2,3 persen dan 0,3 persen.
"Investor yang mungkin mencari alasan untuk menekan pasar saham
yang naik lebih dari 10 persen pada 2021, menemukan alasan yang bagus: inflasi
yang meningkat,” tulis Direktur Pelaksana Goldman Sachs, Chris Hussey dalam
sebuah catatan dilansir dari CNBC, Kamis, (13/5/2021).
Investor Khawatir Kenaikan Inflasi
Investor khawatir kenaikan inflasi karena dapat menekan margin dan
mengikis keuntungan perusahaan. Jika tekanan harga menjadi terlalu panas untuk
jangka waktu yang berkelanjutan, bank sentral AS atau the Federal Reserve akan
dipaksa untuk memperketat kebijakan moneter.
"Ada orang yang berpikir the Fed tidak hanya di belakang kurva,
mereka mungkin kehilangan intinya dan pada saat mereka mulai mengejar
ketertinggalan, sudah terlambat,” ujar Veteran Wall Street Art Cashin dilansir
dari CNBC.
Saham teknologi berada di bawah tekanan selama sepekan dan bulan ini.
Saham teknologi kembali memimpin penurunan karena imbal hasil obligasi
melonjak. Saham Microsoft, Netflix, Amazon, dan Apple turun lebih dari dua
persen. Sementara itu, saham Tesla tergelincir lebih dari empat persen dan
Alphabet susut lebih dari tiga persen.
Saham energi menguat di tengah sentimen inflasi. Saham Occidental
Petroleum naik 2,4 persen, saham Chevron dan Marathon Oil menguat tipis. Indeks
volatilitas Cboe yang juga mengukur kekhawatiran wall street naik di atas 28
pada sesi perdagangan Rabu, 12 Mei 2021.
Indeks VIX mengukur kekhawatiran dan volatilitas. Sektor saham
teknologi SDPR merosot 5,6 persen pekan ini seiring investor menilai kembali
valuasi dalam menghadapi kenaikan inflasi.
Sumber
liputan6.com
lowongan, lowongan kerja, lowongan kerja
bandung, loker bandung
best profit,
bestprofit, pt bestprofit, pt best profit, best, pt best, bpf
pt bpf, bestprofit
futures, pt bestprofit futures, best profit futures, pt best profit futures
PT BESTPROFIT FUTURES BANDUNG

Comments
Post a Comment